Wah, mungkin bagi sebagian yang membaca tulisan ini akan bingung akan artinya, tenang jangan ditutup dulu halaman ini. Saya akan mencoba menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah dicerna oleh semua orang yang tentunya ngerti dan paham Bahasa Nasional kita Bahasa Indonesia.
Ya kata yang menjadi judul diatas diambil dari pepatah jawa yang kurang lebih artinya adalah bisalah merasakan, jangan mersa bisa. Selalu itu yang menjadi titik dimana hal tersebut jadi akar pemikiran. Kadang orang salah menjalankan kehidupannya dengan mencoba untuk berbuat lebih yang akhirnya mereka sendiri bingung dengan kelakuan mereka sendiri. Selama ini, kita selalu berkutat dengan sikap dan perilaku orang dan menjadikan kita banyak menilai tingkah serta perilaku. Dari situ bisa kita lihat bahwa banyak manusia yang mengesampingkan prinsip seperti dalam pepatah itu. Dan bisa kita saksikan bahwa orang yang seperti itu tidak memiliki harga yang pantas sebagai manusia, karena tindakan mereka tak dapat mereka hitung sendiri. Sebagai makhluk yang memiliki tingkat kesempurnaan yang lebih daripada makhluk lain harusnya kita bisa menempatkan diri dalam jajaran yang tepat. Makna ini bukan berarti kita sombong, namun menjadikan kita bisa berfikir bukan hanya berfikiran kita bisa.
Sisi yang tak pernah lepas dari manusia adalah kesombongan diri. Ya, kesombongan diri merupakan sebuah bayangan hitam yang ga akan jauh2 dari kita. Makanya prinsip yang ada dalam pepatah itu mendidik kita untuk tidak sombong dan tahu semua kemampuan kita dan mengerti batasan dari kemampuan tersebut. Kalau kita selalu bisa mengerti dengan diri kita maka kita akan bisa menjadi orang yang arif dengan tindakannya serta sadar sepenuh hati ketika melakukan sesuatu.
Menjadikan kita lebih bisa mengukur kemampuan diri dan batasan kemampuan kita merupakan satu hal yang sangat menyenangkan karena akan menjadikan kita menjadi makhluk yang sangat-sangat menyenangkan didalam masyarakat. Melebihi dari itu semua, manusia merupakan suatu makhluk yang sangat kompleks dalam segala hal. Salah satu penopang kekomplekan dari manusia adalah sifat yang ada melekat dalam diri manusia itu sendiri. Maka, untuk menjadi manusia yang mampu berbuat kebajikan dan arif serta bijak dalam segala hal kita harus fahami dulu semua yang menjadi sifat kita. Sudah siapak kita dengan kekomplekan sifat kita sendiri..?
Temukan jawaban-jawabannya pada tulisan yang mendatang.
k1n6k0n9 Berkata:
on Oktober 28, 2008 at 1:20 pm
he… thanks artikelnya kang