Keceriaan….???

Beberapa kejadian yang kami alami ini mungkin sangat mengherankan bagi anda semua. Ketika seorang telah mengenal dan dianggap sahabat hingga untuk menegur saja sungkan rasanya kalau memang tidak berketerlaluan, ternyata dibalik itu semua, tersimpan semua dengki yang merutuki hingga ke ubun-ubun.
Entah mengapa ini bisa terjadi dengan sahabat kami sendiri. Mulanya kami cuman menganggap ini adalah perubahan sesaat, namun kenyataannya menjadikan semua ini berubah drastis tentang apa yang kami pikirkan terhadapnya. Kedengkian apa yang menjadikan dia seperti saat ini yang kami sendiri tak pernah mengerti. Bahkan kadang kami merasa heran dengan sikap dan perbuatan yang dilakukannya. kehidupan yang berbeda menjadikan dia berubah seperti yang ada saat ini. Ketegaran yang kami rasakan mulai goyah, kesejukan nurani selama ini hanya menjadi bulir-bulir penyesalan yang tiada arti.
Kami bukan dewa yang senantiasa bermurah hati untuk melakukan semuanya hanya demi senyuman makhluknya. Kami manusia yang kadang juga sakit hati dengan perlakuakn keji dari sahabat sendiri yang nyatanya kami anggap lebih dari saudara. Namun….
entah mengapa kehidupan ini begitu kejam untuk diri ini, hingga untuk mengumpatnya saja kami tak sanggup, namun sayatan dan goresan luka yang ada semakin dalam dan menjadi-jadi.
Bukan kami inginkan sebuah balasan dari apa yang telah kami keluarkan, namun sedikit saja pengertian sudah menjadikan kami bangga menjadi sahabatnya. Sekarang, ketika kekejaman demi kekejaman berlalu lalang dihadapan muka, saatnya menutup diri dari segala kemunafikan bahwa kami adalah penyabar. Kamus sabar ini entah sudah terbang kemana untuk menghadapi kenyataan.
Sapaan kecil yang harusnya menjadi hal paling ringan namun menjanjikan, malah menjadi pemandangan yang sangat-sangat asing bagi kami. Indahnya kebersamaan dan kebersahabatan ini menjadi kan sebuah gunjangan yang dqalam bagi diri ini. Beginikah rasanya punya sahabat….?
Saat-saat yang indah dalam hidup yang harusnya kami rengkuh sendiri kami singkirkan demi kebesahabatan, namun apa daya begini hasil akhirnya.
maaf kawan, kami bukan dewa dan jelas bukan Tuhan, yang berarti juga kami pemaaf namun bukan maha pemaaf, kami pemurah bukan maha pemurah. Sahabat, kami manusia yang bisa terluka, menangis dan mati. Kami manusia teman bukan hewan,…
Mengertilah teman…..

Tinggalkan sebuah Komentar