Bersedih (lagi?)

“Mendalami sebuah keyakinan memang kadang membutuhkan keteguhan dan ketebalan hati serta muka. Seperti apa yang telah aku alami beberapa hari terakhir ini. Mencoba untuk memberikan sesuatu yang terabik untuk semuanya tapi ternyata malah semua ini jadi terbalik.”

Menyepi dalam sebuah ruang menjadikan aku menafikkan segalanya untuk kemudian berifkir sejenak tentang apa yang disebut keheningan dan kekosongan. Mencoba untuk membaca sesuatu dengan berbagai sudut pandang yang kadang menjadikan kita bijak namunĀ  tak jarang menjadikan kita sebagai bahan ejekan orang lain. Disinilah aku mencoba menjadi “orang gila yang bijak” seperti apa yang selama ini menjadi buah pikiran. menanti sebuah keajaiban, menunggu saat orang mulai sadar, sudah pasti tak mungkin karena waktu terus berjalan dan mengelilingi kita dengan semua harapan yang kadang kosong namun sebenarnya memiliki arti baru bagi kita. temukan semua jawaban dalam keheningan dan kekosongan pikiran. Inilah sebuah keinginan aku yang sampai saat ini belum dapat tercapai.

Belajar menghargai orang dengan sudut pandang pribadi kadang menjadikan sebuah kekhawatiran tersendiri. Tapi memang itulah yang harus kita dapati sebagai manusia yang punya arti bagi orang lain. Menjadi sebuah gambaran tersendiri bagi kita untuk tetap berjalan dalam koridor yang telah tersusun rapi karena kuasa-Nya.

Beberapa waktu ini menjadikan aku berpikir lagi, karena terus terang sampai waktuku yang sudah lumayan sempit ini masih juga aku berjalan dalam egoisme yang menyesatkan. Keinginan untuk menjadikan orang lain lebih baik dan sempurna kadang menyebabkan kesombongan diri muncul dan menghukum tanpa ampun. lebih indah kembali berjalan dalam lingkkungan ini daripada mencoba membuat sebuah lingkungan baru yang menyesakkan, mengharukan dan sering merepotkan. Bukan berarti aku menyerah dengan semua ini, namun aku sadar ketika semua harus berjalan dalam koridor masing2 dan nantinya bertemu dalam koridor besar yang disebut sebagai sebuah ikatan.

Membelenggu diri, itu ungkapan yang lumayan pas bagi aku selama ini. Aku berusaha melakukan perubahan2 yang kadang justru menjadi bencana ketika orang tidak bisa menerima perubahan, ataupun bingung dengan perubahan. Menjalani sebuah kerancuan hidup, itu yang aku alami saat ini, dimana sebuah keinginan malah menjadi bumerang yang siap membelah kita sendiri tanpa ampun ketika kita melejitkanĀ  senjata itu.

Semoga apa yang aku alami beberapa waktu ini segera usai dan kemblai pada sebuah kenyataan dan aturan yang nyata dan benar adanya.

Tinggalkan sebuah Komentar