Merekahnya semerbak mawar yang ada ditaman bunga sore itu, hanya menambah kepiluan hati ini. Entah mengapa aku masih saja tertegun disini dan menatap kosong taman bunga itu. Disisi lain, anak-anak kecil dan kembang-kembang desa itu riuh rtendah didalam taman bunga itu menikmati harum dan warna warni bunga yang ada. Sekonyong-konyong petir menyambar pikiranku, bahwa aku mulai tak waras dengan semua ini. Palu godam kesadaran mencoba menggelitik jiwa, menumbuhkan keinginan untuk kembali menikmati hangatnya matahari pagi dan rindangnya pohon beringin tempat camar-camar bercanda dengan familinya.
Seolah terbangun dari tidur aku tertegun tagak menatap kosong taman yang penuh dengan rona mawar dan lily itu. Pucuk flamboyan itu mencoba menyapaku untuk yang kesekian kalinya, namun tetap saja aku membisu. Kala itu semua menatapku curiga seolah aku sudah mulai sinting, edan dan orang yang goyah kewarasannya. Menurutkan kata hati ini, aku kembali tersurut pada rindah beringin. Merutuk hati dan menangisi kenyataan bahwa aku sendiri sudah tak tahu siapa namaku. Menyendiri di rindangnya beringin ini menjadikan kita tetap berada pada sebuah keinginan untuk tetap hidup dengan kepincangan hati ini. Tak masalah ketika aku mencoba untuk menyadari betapa hinanya diriku dihadapmu, namun aku sendiri yang mulai menarik diri dari semua keinginan semu yang selalu menawarkan kebahagiaan namun semu dan kesedihan yang sangat nyata.
Menanti sebuh kejujuran hati ini untuk tetap berkata pada dunia bahwa aku masih layak untuk hidup dan masih mampu bernafas walu tersengal dan berbicara walau sengau. Menanti sebuah keinginan jiwa untuk tetap berada dalam sebuah koridor cinta dan kasih yang selama ini menjadikan kita untuk tetap mencintai diri kita. Hingga saatnya kita harus mampu berbagi kasih dan sayang dengan sesama dan mengolah perbedaan-perbedaan yang merupakan sebuah harmony tersendiri yang begitu bergelora dalam jiwa.
Keinginan semu untuk hidup bersama dengan kesepian menjadikan aku tetap dengan berada dalam sebuah kebutaan jiwa dan pikiran untuk selalu menatap positid yang ada dalam sebuah hati dan jiwa yang aku sendiir tak pernah mengerti,
Meniti sebuah jawaban pertanyaan jiwa…….
juni 2008
Itox’s